Tree House di Bronte: Hidup di Antara Pepohonan

I swear by a vitamin-packed face serum for giving skin a healthy, next-level glow but I’d never really considered drinking it. Until recently, anyway.

Bayangkan tinggal hanya dua menit dari pantai, namun saat Anda melihat keluar jendela, yang terlihat bukanlah laut, melainkan hamparan pucuk pepohonan hutan yang rimbun. Inilah esensi dari Tree House, rumah pribadi milik Madeleine Blanchfield (Direktur Madeleine Blanchfield Architects) di Bronte, Sydney.

Dalam video ini, Madeleine membawa kita melihat bagaimana ia mengubah situs yang curam dan menantang menjadi tempat tinggal yang tenang dan menyatu dengan alam.

Tantangan Situs yang Curam

Salah satu tantangan terbesar—sekaligus daya tarik utama—dari proyek ini adalah topografinya. Lahan rumah ini sangat curam, di mana taman belakangnya berada dua atau tiga lantai lebih tinggi dari jalan depan.

Alih-alih meratakan tanah, Madeleine memanfaatkan ketinggian ini. Ia merancang area hunian utama di lantai atas agar penghuninya merasa seolah-olah sedang melayang di atas pepohonan (treetops), memberikan privasi dan koneksi visual yang kuat dengan alam, jauh dari hiruk-pikuk pinggiran kota.

Filosofi Desain: Perjalanan dan Kejutan

Madeleine percaya bahwa sebuah rumah harus memberikan momen kekaguman (awe and wonder) secara bertahap, bukan membuka semua rahasianya di pintu depan.

  • Pintu Masuk: Perjalanan dimulai dari level bawah (garasi), menaiki tangga beton menuju pintu depan yang diiringi oleh taman dan kolam air yang memantulkan cahaya ke langit-langit.
  • Tangga Spiral: Begitu masuk, Anda disambut oleh tangga spiral yang menjadi pusat sirkulasi vertikal rumah ini.
  • Kamar Tidur: Kamar tidur dirancang mengelilingi void tangga dengan dinding melengkung. Uniknya, kamar mandi diintegrasikan sebagai bagian dari alur menuju kamar tidur, bukan sekadar ruang tertutup untuk membersihkan diri, menciptakan lapisan privasi yang lembut (cocooned).

Koneksi Personal dengan Ruang

Setiap ruangan dirancang dengan karakter penghuninya dalam pikiran:

  • Kamar Anak Laki-laki: Menghadap ke utara dengan kolam di depannya, sehingga sinar matahari selalu memantul di permukaan air—cocok untuk anaknya yang sangat suka air (water boy).
  • Kamar Anak Perempuan: Memiliki halaman courtyard pribadi dengan pohon yang unik, mencerminkan kepribadiannya.

Material dan Pencahayaan

Interior rumah ini sangat minim material, didominasi oleh beton dan kayu pucat (pale timber) untuk menjaga kesan ringan dan tenang.

  • Lantai Kamar Mandi: Menggunakan terracotta yang memberikan sensasi seperti berdiri di atas pasir, menciptakan transisi yang mulus dari lantai kayu di ruangan lain.
  • Pencahayaan Buatan: Madeleine sangat bersemangat tentang pencahayaan buatan (artificial lighting). Ia bermain dengan cahaya untuk mengubah mood ruangan di malam hari, menyoroti permukaan tertentu untuk menciptakan suasana yang berbeda-beda.

Tree House di Bronte bukan sekadar rumah pantai biasa. Ini adalah eksperimen tentang cahaya, kualitas ruang, dan bagaimana arsitektur bisa memengaruhi perasaan penghuninya. Seperti yang dikatakan Madeleine, rumah ini bersifat experiential—lebih mengutamakan pengalaman dan perubahan suasana daripada sekadar fitur arsitektur yang mencolok.

Apakah kamu tertarik dengan desain rumah yang “terbalik” seperti ini (ruang tamu di atas, kamar tidur di bawah) untuk memaksimalkan pemandangan?

Hariz

Hariz

Keep in touch with our news & offers

Subscribe to Our Newsletter

Comments

Leave a Reply